Kelir…

24/11/2008

Rindu Bapak….

Filed under: Renungan — mrtosa @ 16:17

“Walah ayune, rek. Mau kemana to, Dik, pagi-pagi begini kok sudah rapi?” sapa Mbak Sri, penjual sayur dari Pasuruan, dengan nada berayun-ayun. Ia sedang menjajakan dagangannya di halaman rumah.“Ndak ke mana-mana,” jawabku singkat sambil tersenyum.

“Mau ketemu doinya, ya? Hihihi…,” Mbak Sri terkikik senang seperti menemukan mainan yang lucu dan menggemaskan.

“Eh! Masih kecil kok sudah doi-doian. Iki piro, Mbak?” Ibu memotong kegembiraan Mbak Sri dengan nada tak suka. Mbak Sri memang dikenal genit oleh para tetangga. Pantas Ibu terdengar tak berkenan dengan komentarnya barusan. Takut anaknya ikutan genit, kali.

“Jangan lupa pesananku buat besok lho, ya. Bawain kerang ijo,” Ibu mengingatkan saat transaksi sudah selesai. Tumben cepet….

“Iya, Bu. Beres! Monggo Bu, Dik Ranti,” pamit Mbak Sri yang dijawab “he-em” pendek Ibu.

Ibu lalu mendekatiku.

“Belanja apa, Bu?” tanyaku basa-basi sambil berusaha meraih tangannya.

“Sop sama perkedel jagung kesenanganmu. Kamu itu lho, apa nggak lebih baik nunggu di dalam saja?” Ibu menggoyang-goyangkan tangannya yang kugenggam.

“Nggak mau, ah. Enakan di sini.”

“Masih dua jaman lagi lho, Nduk,” bujuk Ibu.

“Nggak pa-pa. Biarin. Ranti suka di sini. Ramai,” aku tetap bersikeras.

“Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, Ibu di dapur, ya.”

“Iya, Bu,” jawabku

Ibu pun melangkah ke dalam.

Sejak pesawat televisi kami dijual sebulan yang lalu, rumah memang jadi lebih sepi. Tinggal berdua saja sudah sepi, apalagi tanpa kotak hiburan itu. Salah seorang guruku pernah bilang kalau menonton televisi itu bisa menjadi racun. Soalnya, kalau sudah di depan televisi, perhatian kita jadi tersedot dan malas ngapa-ngapain, bahkan untuk beranjak dari tempat duduk sekalipun. Makanya, waktu luang, kata Pak Munir—guru IPA ku itu—lebih baik digunakan untuk membaca saja. Hmm, iya, sih. Apa yang dikatakan Pak Munir banyak benarnya juga, lho. Membaca memang lebih menyenangkan! Dalam satu waktu, kita bisa bertualang ke banyak tempat.

Tapi sayang, belum banyak buku yang menggunakan huruf braille. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Jadi, kalau sedang menganggur begini, aku harus menunggu sampai Ibu menyelesaikan order jahitan dan pekerjaan dapurnya dulu, baru bisa memintanya untuk membacakan buku, majalah, ataupun koran—meskipun seringkali hanya majalah dan koran lama.

Biasanya Mbak Alia, tetanggaku yang sudah kuliah dan kost di rumah Mpok Mimin itu juga sering membacakan dan meminjamkan buku-bukunya utnukku. Wah, bukunya banyak, deh. Aku paling suka cerita tentang anak Jepang bernama Toto Chan. Sepertinya belajar di kelas kereta asyik juga!

“Assalamualaikum,” suara berat seorang lelaki mengagetkanku. Hatiku langsung berdebar kencang. Cepat-cepat kubetulkan letak dudukku dan memeriksa jilbabku, apakah masih rapih. Jangan-jangan lelaki itu….

“Waalaikum salam,” sahutku hampir berbarengan dengan Bu RT, tetangga sebelah.

Oalaah… tamunya Bu RT, to. Aku menghela napas, kecewa. Kirain… ah, sudahlah. Memang begini kalau tinggal di gang kecil yang rumahnya bergandengan satu sama lain. Antar tetangga jadi bisa saling berbagi. Contohnya, berbagi suara seperti barusan ini. Eh, dengerin deh, sudah berada di ruang tamu pun suara mereka masih bisa aku tangkap dari kursi karet ini.

“Waduh, pegimane ye? Orangnye lagi kagak ade tuh. Lagian, Abang tau sendiri kan, tanggal tua begini mah susah! Lagi seret, Bang!” suara Bu RT terdengar kencang seperti biasa.

“Yee…dulu janjinye juga tanggal segini, Mpok. Kalau nurutin tanggal tuanye situ, anak isteri aye mau dikasih makan apa, dong?” protes lelaki bersuara berat tadi.

Ah, udah, ah. Tak boleh nguping pembicaraan orang lain. Dosa, kata Mbak Alia. Nanti Allah jadi nggak sayang lagi sama kita.

“Ibu…,” aku melongokkan kepala ke dalam pintu.

“Kenapa?” sahut Ibu dari dalam.

“Sekarang jam berapa?”

“Jam 7 seperempat!”

Ha! Pagi-pagi sudah nagih utang.

Hei, kan tadi sudah dibilang nggak boleh nguping. Kok jadi nambah dosa dengan ngomongin orang, sih. Hehehe. Astaghfirullah….

Duh, masih lama, ya. Hatiku deg-degan nih. Hari ini bapakku mau datang. Begitu yang tertulis di suratnya lima hari yang lalu. Hatiku girang bukan main. Bagaimana tidak, hingga detik ini, sampai aku berumur 11 tahun, sekali pun aku belum pernah bertemu dengannya, mendengar suaranya, atau menyentuh sosoknya.
Aku rindu.

Ibu pernah cerita, sejak aku berumur delapan bulan di dalam kandungan, Bapak pergi ke Arab Saudi menjadi TKI. Aku percaya. Sebenarnya, agak curiga juga, sih. Habis Bapak lama banget nggak pulang-pulang. Sampai 11 tahun! Sudah betah kali, ya? Waktu aku tanyakan pada Ibu, Ibu bilang begini, “Kan Bapak ngumpulin uang dulu biar banyak, biar nanti kita bisa jalan-jalan dan makan enak di restoran.”

“Asyiik! Bu, di restoran Om Liang aja, Bu. Melisa pernah cerita, di sana makanannya enak-enak. Minumannya juga.”

“Hus! Itu babi, haram dimakan. Terserah Bapak aja nanti mau makan di mana. Bapak pasti tahu rumah makan mana yang enak.”

Sejak saat itu, kalau ada teman-temanku bercerita tentang rumah makan, aku hafalkan nama-nama restoran dan makanan yang mereka obrolkan. Dan sekarang aku sudah punya beberapa pilihan untuk kuusulkan pada Bapak.

Tentang Bapak, Ibu jarang bercerita. Paling-paling kalau kutanya saja. Itu pun jawabannya pendek-pendek. Tapi tak apa. Soalnya, dengan begitu aku jadi bisa mengkhayalkan banyak hal tentang Bapak. Dan hari ini dia mau datang. Bukan khayalan! Aku benar-benar akan berhadapan dengannya.

Dia baik enggak, ya? Kira-kira dia bakal membawa oleh-oleh apa, ya? Ya Allah, semoga Bapak membawa jilbab yang banyak…
9.37

Mungkin Bapak masih bingung mencari alamat rumah kami. Kan rumah ini letaknya nylempit, jadi memang agak susah dicari. Ibu sudah dua kali menengokku. Kurasa dia sama gugupnya dengan diriku. Pak, cepetan datang dong…
10.15

Kayaknya Bapak mampir di warung dulu, deh, untuk membelikanku cokelat. Kan Nana, Uli, dan yang lainnya juga sering dibelikan cokelat sama bapaknya. Oh iya, sebentar lagi aku bisa memamerkan bapakku pada mereka. Sebentar lagi kalau mereka main ke rumah, selain Ibu akan ada Bapak untuk mereka pamiti saat hendak pulang. Sebentar lagi bertambah satu orang yang akan menjadi pembaca buku untukku. Mulai besok aku akan berhenti berlangganan ojek Bang Oji, ah. Biar Bapak saja yang mengantarku ke sekolah. Bulan depan Pak Munir tidak usah membayarkan uang sekolah untukku. Kan ada Bapak. Aduh, senangnya punya Bapak.
12.21

“Ranti, shalat dulu yuk, terus makan,” Ibu mengingatkanku. Dari suaranya aku bisa menangkap kegelisahan yang sama sepertiku. Tapi, Ibu tidak bilang apa-apa. Padahal, aku tahu, Ibu pun sudah berdandan. Bajunya harum, disemprot minyak wangi yang dikasih Mbah Uti.

Aku beranjak dengan malas, dituntun oleh Ibu. Ah, Bapak mana, sih… ?
16.03

Setelah mandi dan memakai baju yang sama, aku masih menunggu di kursi karet. Sudah belasan orang yang menyapaku. Sudah tak terhitung suara motor yang lewat. Sudah banyak penjaja makanan, pengamen, tukang sol sepatu, tukang benerin panci, dan tukang-tukang lainnya yang lewat depan rumahku. Tapi, tak satu pun yang mampir ke rumah dan mengaku sebagai bapakku. Aku mulai cemas. Ada apa dengan Bapak, ya? Semoga tidak apa-apa, ya Allah. Semoga saja aku yang salah hari.

“Ibuu…,” aku melongokkan kepala ke dalam pintu.

“Ada apa?” sahut Ibu dari samping.

Masya Allah, aku sampai tidak sadar kalau Ibu ada di sebelahku.

“Sekarang hari apa?”

“Minggu.”

“Benar hari ini kan, Bu, Bapak mau datang?”

“Insya Allah,” jawab ibu dengan nada pasrah.

Aku pun menunggu lagi. Ditemani Ibu di sampingku.

Adzan Maghrib

“Sudah, Nduk. Mungkin Bapak ada keperluan mendadak, jadi tak bisa datang hari ini. Kita shalat, yuk,” Ibu menggandeng tanganku.

Aku merasakan air mataku sudah hampir jatuh, tapi kutahan mati-matian.

Ya Allah, betapa inginnya aku bertemu Bapak

***

Seusai shalat, aku terisak pelan. Kecewa, kecewa, kecewa, sedih, dan khawatir bercampur jadi satu. Bapak telah mempermainkan perasaan kami. Mendengar Ibu bertilawah, hatiku jadi agak damai. Aku tahu, Ibu pasti juga kecewa. Tapi Ibu diam saja.

“Assalamualaikum,” terdengar suara laki-laki sedang mengetuk pintu rumah kami.

Aku melompat dari sajadah dengan tergesa dan langsung menuju pintu depan. Kakiku tertabrak-tabrak buffet dan kursi, tapi aku tak peduli. Mungkin yang mengetuk pintu Bapak!

“Ranti, pelan-pelan!” seru Ibu dari belakang sambil memegang lenganku.

“Waalaikum salam,” jawabku sambil membuka pintu.

“Maaf, ini betul rumah Mbak Iis?” tanya lelaki di hadapanku.

“Benar,” sahut kami berbarengan.

“Ehm…begini Mbakyu, anu, saya Gunawan, teman Mas Suripto.”

Itu dia, itu nama Bapakku!

“Tadi saya dan Mas Suripto mau ke sini, tapi sempat nyasar sampai ke… Pejompongan, kalau ndak salah. Maklum, ndak hapal jalan. Nah, di perjalanan itulah, ngng… itu… kan ada truk, ngebut, terus… ngng… ndak tahunya bukan mau belok yaa… soalnya, kan itu tadi. Tapi, ndak ini kok, Mbak…,” Pak Gunawan bercerita dengan gugup dan berbelit-belit.

“Kenapa? Kecelakaan? Sekarang dirawat di mana?” tembak Ibu langsung.

“I… Iya,” sahutnya lemas. “Sekarang ada di Cipto Mangunkusumo.”

“Ayo ke sana, Bu,” kataku tegas sambil menggandeng tangan ibu.

“Tunggu sebentar, Mas,” kata Ibu pada Pak Gunawan.

Kami membuka mukena dan mengenakan jilbab bertali. Baju yang tadi masih belum diganti. Meski kaget mendengar kabar Bapak kecelakaan, tapi bagiku itu lebih baik daripada tak ada kabar sama sekali.

“Gimana keadaannya sekarang?” tanya Ibu dengan nada khawatir saat mengunci pintu sambil tergesa-gesa.

“Waktu saya mau ke sini, sih, sudah siuman. Makanya, dia minta saya menjemput Mbak Yu sama Dik Ranti.”

Kami naik mobil. Entah mobil jenis apa. Di dalamnya sudah ada orang yang menunggu, mungkin teman Pak Gunawan. Entahlah. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi selain bapakku. Ya Rabbi, selamatkan dia….

***

Sesampainya di rumah sakit, tanganku tak pernah lepas dari jari-jemari ibu yang berkeringat dingin. Kami berjalan bergegas, kami sama tidak sabarnya ingin segera mengetahui kondisi Bapak. Saat memasuki kamar yang ditunjukkan Pak Gunawan, kami mulai berjalan pelan-pelan. Bau-bau asing menjejali hidungku.

“Assalamualaikum,” Ibu mengucap salam pelan saat kami berhenti di depan ranjang besi. Jantungku berdetak sangat kencang, sampai-sampai terasa sesak. Tangan kananku memegang ranjang yang ditiduri Bapak.

“Waalaikum salam,” jawabnya lemah. Ya Allah, itu dia. Itu dia suara bapakku yang selama ini hanya bisa kubayangkan dalam mimpi. Alhamdulillah, akhirnya kami bertemu juga. Meski terdengar lemah, masih tersirat kegagahan dalam suara Bapak.

“Apa kabar, Mas?” sapa Ibu dengan suara menahan isak. Rupanya Ibu yang biasanya tegar itu sudah tak kuasa membendung air matanya lagi. Tangan kanan Ibu melepas tanganku.

“Dik…,” sahut Bapak dengan suara tercekat.

Ibu menangis tersedu-sedu sambil berbicara dengan suara tidak jelas. Aku tidak pernah mendengar Ibu menangis, jadi aku hampir tidak yakin kalau suara perempuan yang sedang mengadu itu adalah ibuku. Kudengar Bapak berkali-kali minta maaf. Aku hanya terpaku di ujung ranjang sambil tetap memegang besinya. Air mataku meleleh ke mana-mana. Aku tidak pernah menyangka pertemuan kami akan seperti ini.

“Ini Ranti, Mas. Anak kita,” Ibu menarik tanganku setelah tangisnya mereda.

Aku maju selangkah. Aku tidak yakin, ada rasa takut menjalari hatiku.

“Nak,” kata Bapak dengan suara lemah.

Ya Tuhan, “nak” katanya. Aku dipanggil nak oleh bapakku. Itu sungguh-sungguh panggilan terindah yang pernah kudengar seumur hidupku. Air mataku semakin deras, isakku semakin keras.

“Ba-pak…,” kataku terbata.

“Sini, Nak… Cantik….”

Cantik, katanya! Ya Allah, aku rela memberikan semua uang celengan yang sudah kukumpulkan sejak TK demi mendengar bapakku mengatakan itu. Bahkan Nuri, bonekaku satu-satunya pun rela kuberikan.

Aku menghampirinya. Meraba, mencari tangannya dan menciumnya. Rupanya seperti ini tangan seorang Bapak itu. Kuat, besar. Aku terus menggenggamnya. Bapakku mengusap kepalaku sambil berkata maaf. Yah, kalau permasalahannya karena ia terlambat datang sih, aku tak menyalahkannya. Bahkan sopir truk yang menabrak Bapak pun sudah kumaafkan.

Bapak mendekatkan mukaku padanya dan menciumku. Pipinya basah.

“Anakku… Kesayanganku…,” ujarnya.

Aku meraba mukanya. Keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya yang sedang tersenyum. Indah.

Aku tidak tahu seperti apa tersenyum itu—bahkan wajahku sendiri pun aku tak tahu—tapi aku yakin, senyuman Bapak pasti manis sekali. Jauh lebih manis dari es sirup Mang Jaja yang biasa mangkal di ujung gang.

Aku ikut tersenyum. Aku tidak peduli dengan besok. Tidak juga dengan restoran dan lamunan-lamunanku yang lain. Asal ada saat seperti ini saja, aku sudah sangat bersyukur.

Aku punya Bapak!

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: