Kelir…

08/02/2008

Marga Puttiray Mengharu Biru Sepak Bola Nasional

Filed under: Sepak Bola Merah Putih — mrtosa @ 10:27
Serbasaudara Ketika Raih Piala Gubernur Maluku
Nama Puttiray lekat dengan perjalanan sepak bola nasional. Klan asal Ambon, Maluku, itu seakan diberi karunia genetik kepiawaian bermain bola. Sampai saat ini tercatat 18 Puttiray menjadi pemain sepak bola profesional atau semiprofesional. Hebatnya, mereka pernah membentuk tim yang semua pemainnya bermarga Puttiray, termasuk pemain cadangan.

Terik matahari terasa memanggang kulit di Lapangan Merdeka, Ambon, siang itu. Tapi, seakan mengabaikan sengatan matahari, sejumlah anak berlari sembari mengejar bola. Mereka adalah para siswa Amboina Football School (AFS) yang tengah mengasah keterampilan bermain sepak bola di lapangan yang terletak di belakang Kantor Gubernur Maluku tersebut. Para siswa berkostum hitam-merah itu sangat bersemangat mengejar, mengocek bola, dan sesekali melancarkan tackling.

Di pinggir lapangan yang tahun lalu diwarnai tragedi penari cakelele membawa bendera RMS saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir pada acara Harganas itu, tampak sosok paro baya berbalut jersey timnas warna merah dan training pack sewarna. Dia tak henti memberikan instruksi kepada anak-anak didiknya. Sosoknya tegap dengan rambut yang mulai memutih. Dia adalah Jemmy Puttiray, pelatih sekaligus pendiri AFS pada Oktober 2007 lalu.
Sikap ramah ditunjukkan pria berusia 48 tahun itu. Ketika ditanya tentang kedekatan keluarga dengan sepak bola, dia menjawab dengan sangat antusias. Menurut dia, klan Puttiray bersentuhan dengan si kulit bulat sejak zaman kolonial Belanda. “Keluarga Puttiray pertama mengenal sepak bola sekitar 1900-an, melalui Opa (kakek, Red) saya, Yakobis Puttiray. Opa termasuk generasi pertama yang mengenal bola saat Belanda membawanya ke Maluku,” urai pemilik lisensi melatih dari KNVB (Federasi Sepakbola Belanda, Red) itu. Jemmy menyatakan, kakeknya bahkan pernah menjadi pemain timnas Hindia Belanda.

Kegilaan Yakobis pada sepak bola ditunjukkan dengan membentuk Puspa Ragam (PR) pada 1904 di Ambon. Klub itu beranggota pemain dari berbagai suku, termasuk anak-anaknya. Klub itu adalah embrio dari lahirnya Puttiray Brothers (PB) pada 1984. PB kelak dihuni para pemain dari keluarga Puttiray. Puncak kejayaannya adalah ketika mereka memenangi Piala Gubernur Maluku 1986. Di final mereka mengandaskan klub Ambon lain, Virgin, dengan skor 3-0.

Sukses itu menjadi kenangan manis sekaligus unik. Sebab, saat itu semua pemain yang didaftarkan pada even tersebut dari klan Puttiray, mulai starter sampai cadangan. Jumlahnya 22 orang. Saat ini kedua nama itu tetap disandang. Mereka memakai nama PB ketika berkompetisi di kejuaraan terbuka, dan PR saat bertarung di liga internal Ambon.

PB bisa menorehkan sejarah fenomenal itu karena keluarga Puttiray selalu konsisten memunculkan bakat-bakat baru tiap generasi. Yakobis memiliki lima anak lelaki dan empat anak perempuan. Lima anak lelaki Yakobis mayoritas bergelut dengan sepak bola. Yang paling fenomenal adalah anak pertamanya, Matheos Puttiray. Dia menjadi bagian dari timnas bersama Ramang dkk saat menahan imbang Uni Sovyet 0-0 pada Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. “Sangat luar biasa rasanya punya papa yang bisa mengharumkan nama bangsa,” tegas Jemmy.

Matheos dikaruniai 14 anak, 10 lelaki dan empat perempuan. Nah, 10 anak lelaki Matheos itu semuanya menjadi pemain sepak bola. Termasuk Jemmy, anak keempat. Di masa mudanya, kelihaian Jemmy bermain bola membawanya bermain di klub lokal PSA (Persatuan Sepak Bola Ambon). Dia juga sempat berlabuh di sejumlah klub bernama besar pada dekade 1980-an. Misalnya, Persebaya dan Niac Mitra. Di atas Jemmy, ada Dony Puttiray, anak tertua. Dony juga sempat memperkuat Puttiray Brothers dan Niac Mitra pada akhir dekade 1970-an. Selain itu, pria yang sekarang berumur 52 tahun itu pernah dipanggil untuk mengikuti seleksi timnas.

Anak lelaki ketiga adalah Franky Puttiray. Pria 44 tahun itu adalah kiper ketika PB menggenggam trofi Piala Gubernur Maluku 1986. Dia juga pernah memperkuat Suryanaga, klub anggota Persebaya. Tiga anak lelaki di bawah Franky juga menjadi pemain sepak bola, tapi hanya memperkuat klub lokal. Mereka adalah Nicky Puttiray, 37, Donald Puttiray, 36, dan Reki Puttiray, 35. Ketiganya berkiprah di PR dan PSA.

Selanjutnya Rochy Puttiray, 34. Pemain yang kini menetap di Solo itu namanya cukup melegenda di Asia. Selain malang melintang di sejumlah even internasional, dia sempat menyarangkan dua gol ke gawang AC Milan saat klubnya Kitchee FC, Hongkong, beruji coba melawan tim Serie A itu.

Sementara dua anak lelaki terakhir adalah Peter yang memperkuat PSA dan Charles yang musim lalu merumput di Persela Lamongan.

Kemudian adik Matheos, Willem Puttiray, memiliki tujuh anak lelaki pemain sepak bola. Yang tertua, Mori Puttiray pernah bermain di PR dan PSA. Sekarang dia menjadi pegawai PDAM Kota Ambon dan melatih di AFS. Adik Willem, Nicky Puttiray, memiliki seorang anak pemain sepak bola, Ricky Putiray. Saat ini keluarga Puttiray bertumpu pada generasi cicit Yakobis. “Saya harap anak-anak kami bisa menjadi pemain sepak bola andal dan prestasi 1986 bisa terulang,” terangnya.

1 Comment »

  1. bangkit’kan persepakbolaan kota ambon.. ambon punya bakat sepak bola yang sangat bagus hanya kurang dari segi mentalitas.. sekali lagi ambon harus bangkit dari keterpurukan..

    Comment by alkevino — 05/01/2009 @ 14:43 | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: