Kelir…

05/01/2008

Tia….

Filed under: cerita-cerita — mrtosa @ 12:02
“Nggak mungkin lah dek! Kak Tia kan udah … nggak ada!” ujarku emosional. Kukira Nala hanya ingin mempermainkan aku.

“Pengumuman! Udah pada tahu kan, kalo tradisi asrama kita itu ada pengangkatan adik? Jadi, besok anak-anak kelas XI dan XII kumpul di kapel jam tujuh malam. No molor!” ujar Devi, Koordinator Asrama Putri di akhir acara Welcome Party, acara penyambutan penghuni baru asrama putri alias anak kelas satu, yang diadakan di lapangan basket asrama.

Besok?! Hmm… rasanya baru kemarin aku jadi adik bungsu di sini. Waktu berlalu dengan cepat, tahun pertama telah kulewati tanpa terasa. Dan … besok aku sudah jadi kakak!
Satu tahun berlalu dengan sedih dan tawa. Sejuta peristiwa yang beberapa di antaranya menyisakan bekas yang tak mungkin sirna.
Kutarik napas dalam-dalam. “Kak Tia, seandainya kakak masih di sini,” batinku. Mendadak rasa kangen menyergapku, disusul dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk mataku.

Kak Tia, kakak angkatku di sini. Di sini, ya seharusnya ia di sini. Tapi, kecelakaan itu telah memisahkan aku darinya. Kak Tia, kapten basket putri sekolah ini. Yang gila basket, tapi juga girlie. Yang berani melawan kakak tergalak waktu pendadaran Pramuka. Hmm… kutarik nafasku dalam-dalam sekali lagi, sambil menyapu air mata dengan punggung tanganku. Kak Tia….
Setahun yang lalu pada acara pengangkatan adik, kurasakan kelegaan dan kegembiraan karena kakak angkatku adalah Tia. Tapi tak genap setahun ia telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kak Tia pergi ke surga menjelang ujian kenaikan kelas.
“Li, balik yuk!” ajak Meidy, teman satu rumahku. Di sini yang dimaksud dengan rumah adalah asrama.
“Emang acaranya udah selesai?” tanyaku.
“Udah dari tadi. Tuh, lapangan basket udah sepi. Kamu dari tadi ngelamun melulu, sih!” ujarnya.
Aku pun bangkit dari tempatku duduk dan berjalan bersama Meidy menuju rumahku.
“Elo kenapa, Li? Kok nangis gitu?” tanyanya.
“Kangen, Mei…” jawabku.
“Kangen ama kak Tia?”
“Iya… Acara ini membuatku ingat dia, habis-habisan…”
“Sabar ya Li…” ujar Meidy sambil mengelus punggungku.

***
Pukul 18.45. Lima belas menit lagi pengambilan undian adik. Tapi sedari jam belajar dimulai, penghuni rumahku tidak ada yang bisa berkonsentrasi dengan pelajaran masing-masing dan memilih untuk bergosip-ria tentang adik kelas. Malahan, Vidia yang sudah bolak-balik ke teras untuk belajar, akhirnya menyerah dan ikut nimbrung bergosip.
“Mei, elo ada anak baru yang diincer nggak?” tanya Sisca, teman satu rumahku juga.
“Nggak ada sih. Gue pasrah. Siapapun adek gue, bakal gue terima,” jawab Meidy.
“Kalo elo, Sis?” tanya Vidia sembari memijit-mijit jerawat mungilnya yang sudah bandel selama sepekan lebih.
“Gue sih penginnya anak di rumah depan. Tina. Abis anaknya cute banget sih, kayak gue,” ujarnya.
“Narsis!!!” ujar anak-anak yang lain serempak.
“Vidia, elo siapa incerannya?”
“Pengennya sih kalo nggak Sheila, ya… Tesa”
“Hah?! Tesa? Yang nyolot itu?” tanyaku.
“Emang tu anak nyolot ya?”
“Nyolot aja pake banget,” ujar Rosi, yang memang panitia MOS.
“Tapi kalo elo ama Sheila pantes-pantes aja. Mirip!” ujarku.
“Kok bisa?” tanya Vidia.
“Potongan rambut sama, ukuran badan sama, gembul. Narsisnya sama, nggak tahu malunya sama. Apalagi coba?” ujarku.
Vidia hanya bisa mengelus dada.
“Nah, kalo elo siapa?” tanyanya padaku.
“Kayaknya adek gue itu Nala deh…” jawabku.
“Nala?! yang mana sih?” tanya Sisca.
“Itu lho, anak rumah Mawar yang putih, tinggi, punya tahi lalat di hidung itu lho!” uraiku
“Kok kayaknya elo yakin gitu, sih?” tanya Rosi.
“Soalnya, dulu tuh waktu kak Tia masih ada, dia suka sok jadi peramal dan ngeramal kalo adek gue bakal dari rumah Mawar, trus badannya tinggi gitu,” jelasku
“Oooo…!!!” Koor dari yang lain menyambut. Semua sudah paham akan kedekatanku dengan almarhum kak Tia.
“Duh, gue jadi pengin nangis lagi, nih” ujarku sambil mengelap pelupuk mataku.
“Jangan gitu dong …” ujar Vidia sambil memelukku disusul dengan yang lain.
Teeettt! Sudah jam tujuh malam.

***
Kapel mulai ramai, dipadati oleh anak-anak kelas XI dan XII yang aku tahu, pasti tengah penasaran. Siapa yang akan menjadi adik angkatnya. Setelah doa singkat dan pengantar dari kepala asramaku, pengambilan undian pun dimulai. Dimulai dari kakak kelas yang tahun kemarin belum dapat adik, sedang yang lain berbaris di belakangnya.
Kulihat Sisca terbingung-bingung dengan nama yang tertera di kertas undiannya. Atau barangkali ia mendapatkan adik angkat yang sama sekali di luar dugaannya.
Kulihat, tinggal tiga orang lagi di depanku. Kulihat Vidia menghampiri kakaknya, Kak Gloria, sambil menunjukkan kertas undiannya. Kulihat Kak Gloria tengah tersenyum puas. Tiba giliranku, kuambil salah satu kertas yang tergulung di atas keranjang rotan yang kecil. Saat kubuka, aku hampir terlonjak. Gembira, karena nama yang tertera itu NALA. Aku menghampiri Vidia yang sudah bergabung dengan yang lain.
“Siapa, Li?”
“Nala! Apa gue bilang. Adek gue Nala! N-A-L-A!” ujarku disambung dengan sorakan yang lain.
Ketika yang lain masih sibuk membayangkan adik barunya, aku tercenung. Kubayangkan di suatu tempat, kak Tia tengah tersenyum, puas karena ramalannya terbukti benar.

***
Aku, Rosi, Vidia, dan Meidy bersepakat untuk mengenakan jumper saat acara Pencarian Kakak di lapangan basket nanti. Sejak adik kelas X berkumpul di kapel untuk mendengarkan pengumuman, kami sudah standby di lapangan basket. Tak berapa lama, mereka sudah keluar dari kapel dan berhambur menuju lapangan basket.
“Kak Lily ya?” dari balik jumperku, aku tahu itu suara Nala.
“Kak Lily itu gue,” ujar Vidia
“Kak Vidia boong ah … Kak Lily kan nggak gendut,” cetusnya.
“Ayo dong kak Lily …” Nala mengguncang tubuhku.
“Seberapa yakin, dek?” tanya Rosi.
“Yakin dong! Kak Lily kan MC waktu MOS,” ujarnya.
“Lily kan ada dua dek,” ujar Sisca.
“Lily yang satu lagi itu kelas XII, kak” jawabnya mantap. Pinter juga adek gue, pikirku.
“Udah aja Li, elo ngaku aja deh. Adek elo kepinteran,” ujar Meidy. Aku pun segera membuka topi jumper yang menyamarkanku.
“Kita di teras rumahku aja yuk!” ajakku, lalu kugandeng Nala menuju rumahku yang ada di sebelah utara lapangan basket. Kami duduk di kursi panjang putih yang ada di teras. Tak perlu waktu lama untuk akrab dengannya. Sampai akhirnya aku teringat lagi akan kak Tia.
Kulihat, tinggal tiga orang lagi di depanku. Kulihat Vidia menghampiri kakaknya, Kak Gloria, sambil menunjukkan kertas undiannya. Kulihat Kak Gloria tengah tersenyum puas. Tiba giliranku, kuambil salah satu kertas yang tergulung di atas keranjang rotan yang kecil. Saat kubuka, aku hampir terlonjak. Gembira, karena nama yang tertera itu NALA. Aku menghampiri Vidia yang sudah bergabung dengan yang lain.
“Siapa, Li?”
“Nala! Apa gue bilang. Adek gue Nala! N-A-L-A!” ujarku disambung dengan sorakan yang lain.
Ketika yang lain masih sibuk membayangkan adik barunya, aku tercenung. Kubayangkan di suatu tempat, kak Tia tengah tersenyum, puas karena ramalannya terbukti benar.

***
Aku, Rosi, Vidia, dan Meidy bersepakat untuk mengenakan jumper saat acara Pencarian Kakak di lapangan basket nanti. Sejak adik kelas X berkumpul di kapel untuk mendengarkan pengumuman, kami sudah standby di lapangan basket. Tak berapa lama, mereka sudah keluar dari kapel dan berhambur menuju lapangan basket.
“Kak Lily ya?” dari balik jumperku, aku tahu itu suara Nala.
“Kak Lily itu gue,” ujar Vidia
“Kak Vidia boong ah … Kak Lily kan nggak gendut,” cetusnya.
“Ayo dong kak Lily …” Nala mengguncang tubuhku.
“Seberapa yakin, dek?” tanya Rosi.
“Yakin dong! Kak Lily kan MC waktu MOS,” ujarnya.
“Lily kan ada dua dek,” ujar Sisca.
“Lily yang satu lagi itu kelas XII, kak” jawabnya mantap. Pinter juga adek gue, pikirku.
“Udah aja Li, elo ngaku aja deh. Adek elo kepinteran,” ujar Meidy. Aku pun segera membuka topi jumper yang menyamarkanku.
“Kita di teras rumahku aja yuk!” ajakku, lalu kugandeng Nala menuju rumahku yang ada di sebelah utara lapangan basket. Kami duduk di kursi panjang putih yang ada di teras. Tak perlu waktu lama untuk akrab dengannya. Sampai akhirnya aku teringat lagi akan kak Tia
“Nala, mau liat foto kak Tia?” tanyaku. “Kak Tia itu bekas kakak angkatku. Dia meninggal waktu mau kenaikan kelas. Tragis.”
“Mau!” jawabnya antusias setelah sesaat sempat tertegun.
Nala kuajak masuk ke rumahku. Menuju lokerku. Loker nomor tujuh, angka favoritku.
“Ini nih kak Tia,” ujarku sambil membuka pintu lokerku. Di bagian dalam pintu lokerku, kupasang banyak sekali foto kak Tia. Nala tertegun. Lama ia memandangi foto-foto itu. Mulutnya berkomat-kamit tapi tak bersuara.
“Kenapa, La?” tanyaku
“Ini… ini… kak Tia? Yang bener, kak?” Wajah Nala pucat seperti mayat.
“Ya bener dong dek! Ini kak Tia-ku. Emang kenapa?”
“Kapten basket itu, kan? Yang suka warna pink? Nomer punggung 12?”
“Kok tau?”
Nala tercenung dan berkumam:
“Aku tuh pernah ngobrol ama dia! Malah terkadang dia dateng ke rumahku.”
“Nggak mungkin lah dek! Kak Tia kan udah … nggak ada!” ujarku emosional. Kukira Nala hanya ingin mempermainkan aku.
“Bener kok Kak! Dia dulu juga di rumah Mawar, kan? Nomer loker 12?”
“Jangan bohong! Adek dikasih tau siapa?”
“Nala kan udah bilang kak, kak Tia itu kadang ngobrol ama Nala! Dia bahkan ada waktu perkenalan dengan kakak kelas.”
Aku terhenyak. Mana mungkin?
“Dia juga ada kok waktu Welcome Party kemarin,” lanjut Nala, yang membuatku semakin bingung.
“La, emang kak Tia itu gimana?” tanyaku
“Rambutnya di-rebonding, tingginya itu sekitar 170-an, trus telinganya ditindik tiga lobang, kan?” ujarnya lancar. Aku semakin bingung. Tak ada yang salah dari kata-kata Nala. Memang seperti itulah kak Tia.
“Lagi ngeliatin foto kak Tia ya?” tiba-tiba Vidia masuk sambil tersenyum. Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Tau nggak? Kalian itu nggak ikutan doa bareng.”
“Nggak denger suara bel kok,” ujarku
“Emang nggak di-bel. Doa barengnya di lapangan basket kok”
“Biarin aja, nggak ketahuan kan, Vi?”
“Emang nggak ketahuan, tapi Tuhan tau! Li, udah jam sepuluh malem lho. Elo nggak kasian ama adek elo?” tanya Vidia.
Kulirik Nala, kulihat ia masih tercenung.
“Udah jam sepuluh? Ya udah deh, gue nganter Nala dulu. Vi, jangan tidur dulu.”
“Why?” tanyanya bingung.
“Ada deh! Ada yang ingin gue bicarain sama elo.”
Di kamar Vidia.
“Vi, masak adek gue tau banyak soal mbak Tia?” kataku tak ingin berbasa-basi lagi.
“Maksud elo?”
“Katanya, kak Tia tuh kadang dateng ke rumahnya trus ngobrol sama dia gitu.”
“Abis itu, dia cerita apa lagi?”
“Makanya gue bingung. Oh iya, masak katanya lagi, kak Tia tuh ada waktu Welcome Party kemarin”
“Emang ada,” jawabnya singkat
“Hah?!”
“Dia itu masih sering ke sini Li.”
“Elo tau dari siapa?”
“Gue liat sendiri. Nggak cuma gue, anak-anak lain juga ngeliat dia, tapi kami sengaja merahasiakannya dari kamu. Kami nggak ingin kamu terpukul lagi…”

***
Lima puluh hari kemudian, hari ini.
Misa peringatan seratus hari meninggalnya Tia Subiyanti.
Aku dan Nala bergandengan menuju kapel sekolah untuk mengikuti misa. Kulihat teman-teman sekelas kak Tia mengenakan seragam kelas mereka, kemeja dengan dasi merah. Seragam untuk menghormati mendiang Tia Subiyanti. Belum banyak yang memasuki kapel, saat kulirik Nala yang tengah melambaikan tangannya. Pandangannya tertuju ke salah satu sudut lapangan basket sekolah.
“Nala, ngapain sih?”
“Itu lho, kak Tia lagi melambaikan tangan ke kita. Dia kayaknya mau pergi deh.”
Di sudut lapangan basket yang ditunjuk oleh Nala tak kulihat siapa-siapa.
Kosong. Sunyi semata. Misteri.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: