“Walah ayune, rek. Mau kemana to, Dik, pagi-pagi begini kok sudah rapi?” sapa Mbak Sri, penjual sayur dari Pasuruan, dengan nada berayun-ayun. Ia sedang menjajakan dagangannya di halaman rumah.“Ndak ke mana-mana,” jawabku singkat sambil tersenyum.
“Mau ketemu doinya, ya? Hihihi…,” Mbak Sri terkikik senang seperti menemukan mainan yang lucu dan menggemaskan.
“Eh! Masih kecil kok sudah doi-doian. Iki piro, Mbak?” Ibu memotong kegembiraan Mbak Sri dengan nada tak suka. Mbak Sri memang dikenal genit oleh para tetangga. Pantas Ibu terdengar tak berkenan dengan komentarnya barusan. Takut anaknya ikutan genit, kali.
“Jangan lupa pesananku buat besok lho, ya. Bawain kerang ijo,” Ibu mengingatkan saat transaksi sudah selesai. Tumben cepet….
“Iya, Bu. Beres! Monggo Bu, Dik Ranti,” pamit Mbak Sri yang dijawab “he-em” pendek Ibu.
Ibu lalu mendekatiku.
“Belanja apa, Bu?” tanyaku basa-basi sambil berusaha meraih tangannya.
“Sop sama perkedel jagung kesenanganmu. Kamu itu lho, apa nggak lebih baik nunggu di dalam saja?” Ibu menggoyang-goyangkan tangannya yang kugenggam.
“Nggak mau, ah. Enakan di sini.”
“Masih dua jaman lagi lho, Nduk,” bujuk Ibu.
“Nggak pa-pa. Biarin. Ranti suka di sini. Ramai,” aku tetap bersikeras.
“Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, Ibu di dapur, ya.”
“Iya, Bu,” jawabku
Ibu pun melangkah ke dalam.
Sejak pesawat televisi kami dijual sebulan yang lalu, rumah memang jadi lebih sepi. Tinggal berdua saja sudah sepi, apalagi tanpa kotak hiburan itu. Salah seorang guruku pernah bilang kalau menonton televisi itu bisa menjadi racun. Soalnya, kalau sudah di depan televisi, perhatian kita jadi tersedot dan malas ngapa-ngapain, bahkan untuk beranjak dari tempat duduk sekalipun. Makanya, waktu luang, kata Pak Munir—guru IPA ku itu—lebih baik digunakan untuk membaca saja. Hmm, iya, sih. Apa yang dikatakan Pak Munir banyak benarnya juga, lho. Membaca memang lebih menyenangkan! Dalam satu waktu, kita bisa bertualang ke banyak tempat.
Tapi sayang, belum banyak buku yang menggunakan huruf braille. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Jadi, kalau sedang menganggur begini, aku harus menunggu sampai Ibu menyelesaikan order jahitan dan pekerjaan dapurnya dulu, baru bisa memintanya untuk membacakan buku, majalah, ataupun koran—meskipun seringkali hanya majalah dan koran lama.
Biasanya Mbak Alia, tetanggaku yang sudah kuliah dan kost di rumah Mpok Mimin itu juga sering membacakan dan meminjamkan buku-bukunya utnukku. Wah, bukunya banyak, deh. Aku paling suka cerita tentang anak Jepang bernama Toto Chan. Sepertinya belajar di kelas kereta asyik juga!
“Assalamualaikum,” suara berat seorang lelaki mengagetkanku. Hatiku langsung berdebar kencang. Cepat-cepat kubetulkan letak dudukku dan memeriksa jilbabku, apakah masih rapih. Jangan-jangan lelaki itu….
“Waalaikum salam,” sahutku hampir berbarengan dengan Bu RT, tetangga sebelah.
Oalaah… tamunya Bu RT, to. Aku menghela napas, kecewa. Kirain… ah, sudahlah. Memang begini kalau tinggal di gang kecil yang rumahnya bergandengan satu sama lain. Antar tetangga jadi bisa saling berbagi. Contohnya, berbagi suara seperti barusan ini. Eh, dengerin deh, sudah berada di ruang tamu pun suara mereka masih bisa aku tangkap dari kursi karet ini.
“Waduh, pegimane ye? Orangnye lagi kagak ade tuh. Lagian, Abang tau sendiri kan, tanggal tua begini mah susah! Lagi seret, Bang!” suara Bu RT terdengar kencang seperti biasa.
“Yee…dulu janjinye juga tanggal segini, Mpok. Kalau nurutin tanggal tuanye situ, anak isteri aye mau dikasih makan apa, dong?” protes lelaki bersuara berat tadi.
Ah, udah, ah. Tak boleh nguping pembicaraan orang lain. Dosa, kata Mbak Alia. Nanti Allah jadi nggak sayang lagi sama kita.
“Ibu…,” aku melongokkan kepala ke dalam pintu.
“Kenapa?” sahut Ibu dari dalam.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam 7 seperempat!”
Ha! Pagi-pagi sudah nagih utang.
Hei, kan tadi sudah dibilang nggak boleh nguping. Kok jadi nambah dosa dengan ngomongin orang, sih. Hehehe. Astaghfirullah….
Duh, masih lama, ya. Hatiku deg-degan nih. Hari ini bapakku mau datang. Begitu yang tertulis di suratnya lima hari yang lalu. Hatiku girang bukan main. Bagaimana tidak, hingga detik ini, sampai aku berumur 11 tahun, sekali pun aku belum pernah bertemu dengannya, mendengar suaranya, atau menyentuh sosoknya.
Aku rindu.
Ibu pernah cerita, sejak aku berumur delapan bulan di dalam kandungan, Bapak pergi ke Arab Saudi menjadi TKI. Aku percaya. Sebenarnya, agak curiga juga, sih. Habis Bapak lama banget nggak pulang-pulang. Sampai 11 tahun! Sudah betah kali, ya? Waktu aku tanyakan pada Ibu, Ibu bilang begini, “Kan Bapak ngumpulin uang dulu biar banyak, biar nanti kita bisa jalan-jalan dan makan enak di restoran.”
“Asyiik! Bu, di restoran Om Liang aja, Bu. Melisa pernah cerita, di sana makanannya enak-enak. Minumannya juga.”
(more…)