Kelir…

June 20, 2009

SEINDAH CINTA IBU….

Filed under: Renungan — mrtosa @ 7:27 am
Tags: , , ,

Bila aku mencintai Ibu, itu semata-mata karena dari rahimnya yang suci aku terlahir. Alasan itu sudah cukup bagiku untuk mencintainya sepenuh jiwa. Jika kemudian cintaku berkembang dan terus bermekaran, itu karena Ibu selalu menitipkan kasihnya padaku tanpa pernah ada keinginan untuk mengambilnya kembali. Sungguh aku merasa mendapat kemuliaan tak terkira berkesempatan menjaga cinta itu agar terus bersemi di bilik hati.
Ibu memang teramat istimewa bagiku. Dia adalah matahari yang tak pernah lelah menghangatkan bumi. Dia juga bulan yang selalu setia memantulkan cahaya cinta sang matahari dalam pekatnya malam. Bahkan Ibu adalah angin pembawa kesejukan bagi nuraniku. Dan adalah Ibu, sosok wanita yang selalu kukagumi sepenuh hati karena ketegaran dan ketulusan cintanya.
“Kamu nggak malu Tres,”

“Malu kenapa,Bu?”

“Kamu nggak malu jalan bareng sama Ibu seperti ini?”
“Bahkan Tresna bangga, Bu,” jawabku sambil membantu Ibu naik ke dalam angkot. Lalu aku duduk di sisinya. Aku merasakan tatapan aneh dari orang-orang yang ada di dalam angkot kepada Ibu. Tapi aku tidak peduli karena aku tahu, ketulusan hati Ibu yang tidak pernah marah sedikit pun kepada orang-orang yang memandangnya aneh, sebelah mata, atau bahkan ngomongin terang-terangan. Jadi aku pun sama sekali tidak merasa terganggu.
“Justru Tresna selalu sangat menginginkan kesempatan seperti ini, Bu, berjalan-jalan berdua dengan Ibu, memperkenalkan Ibu dengan teman-teman Tresna. Hal ini sangat membuat Tresna bahagia,” sambungku kemudian.

Selalu senyuman yang kemudian mengembang di bibir yang legam dan berkerut itu. Dan aku, tidak akan pernah tahan untuk tidak membalasnya dengan ciuman terhangat. Hanya saja sayang, sekarang kami di angkot, tentu saja hal itu tidak aku lakukan.
Bukan salah Allah jika Ibu diciptakan dengan kaki yang begitu ringkih, bengkok dan teramat kecil. Bukan maksud Allah menjadikan Ibu sebagai bahan tertawaan anak-anak kecil karena ia hanya mampu ngesot untuk mencapai suatu tempat.

(more…)

November 24, 2008

Rindu Bapak….

Filed under: Renungan — mrtosa @ 4:17 pm

“Walah ayune, rek. Mau kemana to, Dik, pagi-pagi begini kok sudah rapi?” sapa Mbak Sri, penjual sayur dari Pasuruan, dengan nada berayun-ayun. Ia sedang menjajakan dagangannya di halaman rumah.“Ndak ke mana-mana,” jawabku singkat sambil tersenyum.

“Mau ketemu doinya, ya? Hihihi…,” Mbak Sri terkikik senang seperti menemukan mainan yang lucu dan menggemaskan.

“Eh! Masih kecil kok sudah doi-doian. Iki piro, Mbak?” Ibu memotong kegembiraan Mbak Sri dengan nada tak suka. Mbak Sri memang dikenal genit oleh para tetangga. Pantas Ibu terdengar tak berkenan dengan komentarnya barusan. Takut anaknya ikutan genit, kali.

“Jangan lupa pesananku buat besok lho, ya. Bawain kerang ijo,” Ibu mengingatkan saat transaksi sudah selesai. Tumben cepet….

“Iya, Bu. Beres! Monggo Bu, Dik Ranti,” pamit Mbak Sri yang dijawab “he-em” pendek Ibu.

Ibu lalu mendekatiku.

“Belanja apa, Bu?” tanyaku basa-basi sambil berusaha meraih tangannya.

“Sop sama perkedel jagung kesenanganmu. Kamu itu lho, apa nggak lebih baik nunggu di dalam saja?” Ibu menggoyang-goyangkan tangannya yang kugenggam.

“Nggak mau, ah. Enakan di sini.”

“Masih dua jaman lagi lho, Nduk,” bujuk Ibu.

“Nggak pa-pa. Biarin. Ranti suka di sini. Ramai,” aku tetap bersikeras.

“Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, Ibu di dapur, ya.”

“Iya, Bu,” jawabku

Ibu pun melangkah ke dalam.

Sejak pesawat televisi kami dijual sebulan yang lalu, rumah memang jadi lebih sepi. Tinggal berdua saja sudah sepi, apalagi tanpa kotak hiburan itu. Salah seorang guruku pernah bilang kalau menonton televisi itu bisa menjadi racun. Soalnya, kalau sudah di depan televisi, perhatian kita jadi tersedot dan malas ngapa-ngapain, bahkan untuk beranjak dari tempat duduk sekalipun. Makanya, waktu luang, kata Pak Munir—guru IPA ku itu—lebih baik digunakan untuk membaca saja. Hmm, iya, sih. Apa yang dikatakan Pak Munir banyak benarnya juga, lho. Membaca memang lebih menyenangkan! Dalam satu waktu, kita bisa bertualang ke banyak tempat.

Tapi sayang, belum banyak buku yang menggunakan huruf braille. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Jadi, kalau sedang menganggur begini, aku harus menunggu sampai Ibu menyelesaikan order jahitan dan pekerjaan dapurnya dulu, baru bisa memintanya untuk membacakan buku, majalah, ataupun koran—meskipun seringkali hanya majalah dan koran lama.

Biasanya Mbak Alia, tetanggaku yang sudah kuliah dan kost di rumah Mpok Mimin itu juga sering membacakan dan meminjamkan buku-bukunya utnukku. Wah, bukunya banyak, deh. Aku paling suka cerita tentang anak Jepang bernama Toto Chan. Sepertinya belajar di kelas kereta asyik juga!

“Assalamualaikum,” suara berat seorang lelaki mengagetkanku. Hatiku langsung berdebar kencang. Cepat-cepat kubetulkan letak dudukku dan memeriksa jilbabku, apakah masih rapih. Jangan-jangan lelaki itu….

“Waalaikum salam,” sahutku hampir berbarengan dengan Bu RT, tetangga sebelah.

Oalaah… tamunya Bu RT, to. Aku menghela napas, kecewa. Kirain… ah, sudahlah. Memang begini kalau tinggal di gang kecil yang rumahnya bergandengan satu sama lain. Antar tetangga jadi bisa saling berbagi. Contohnya, berbagi suara seperti barusan ini. Eh, dengerin deh, sudah berada di ruang tamu pun suara mereka masih bisa aku tangkap dari kursi karet ini.

“Waduh, pegimane ye? Orangnye lagi kagak ade tuh. Lagian, Abang tau sendiri kan, tanggal tua begini mah susah! Lagi seret, Bang!” suara Bu RT terdengar kencang seperti biasa.

“Yee…dulu janjinye juga tanggal segini, Mpok. Kalau nurutin tanggal tuanye situ, anak isteri aye mau dikasih makan apa, dong?” protes lelaki bersuara berat tadi.

Ah, udah, ah. Tak boleh nguping pembicaraan orang lain. Dosa, kata Mbak Alia. Nanti Allah jadi nggak sayang lagi sama kita.

“Ibu…,” aku melongokkan kepala ke dalam pintu.

“Kenapa?” sahut Ibu dari dalam.

“Sekarang jam berapa?”

“Jam 7 seperempat!”

Ha! Pagi-pagi sudah nagih utang.

Hei, kan tadi sudah dibilang nggak boleh nguping. Kok jadi nambah dosa dengan ngomongin orang, sih. Hehehe. Astaghfirullah….

Duh, masih lama, ya. Hatiku deg-degan nih. Hari ini bapakku mau datang. Begitu yang tertulis di suratnya lima hari yang lalu. Hatiku girang bukan main. Bagaimana tidak, hingga detik ini, sampai aku berumur 11 tahun, sekali pun aku belum pernah bertemu dengannya, mendengar suaranya, atau menyentuh sosoknya.
Aku rindu.

Ibu pernah cerita, sejak aku berumur delapan bulan di dalam kandungan, Bapak pergi ke Arab Saudi menjadi TKI. Aku percaya. Sebenarnya, agak curiga juga, sih. Habis Bapak lama banget nggak pulang-pulang. Sampai 11 tahun! Sudah betah kali, ya? Waktu aku tanyakan pada Ibu, Ibu bilang begini, “Kan Bapak ngumpulin uang dulu biar banyak, biar nanti kita bisa jalan-jalan dan makan enak di restoran.”

“Asyiik! Bu, di restoran Om Liang aja, Bu. Melisa pernah cerita, di sana makanannya enak-enak. Minumannya juga.”

(more…)

February 15, 2008

Help Yourself Please…

Filed under: Renungan — mrtosa @ 10:23 am
Seorang pemuda miskin yang lapar duduk santai di atas sebuah jembatan, mengamati sekelompok nelayan. Ketika melihat keranjang yang berisi ikan-ikan hasil tangkapan, pria itu bergumam “Ah, seandainya saya memiliki ikan sebanyak itu, hidup saya tidak akan seperti ini. Saya akan menjualnya untuk membeli pakaian dan makanan.”

“Saya akan memberikan sejumlah ikan kepada Anda bila Anda mau sedikit membantu saya,” kata salah seorang nelayan itu.

“Tentu.”

“Tolong jaga tali pancingan ini sebentar. Ada keperluan yang harus saya bereskan di
ujung jalan sana,” lanjut nelayan itu. Sang pemuda dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Sewaktu ia menjaga pancingan nelayan itu, ikan-ikan mulai menggigiti umpannya, dan ia pun mulai menangkap ikan-ikan tersebut. Dalam sekejap, ia mulai tersenyum lebar, menikmati aktifitasnya.

Ketika si nelayan kembali, katanya, “Saya memberikan kepada Anda ikan-ikan yang telah saya janjikan. Ini, ambillah semua ikan yang telah Anda tangkap. Tetapi saya juga akan memberikan sedikit nasihat bagi Anda. Lain kali, saat Anda memerlukan sesuatu, jangan menghabiskan waktu Anda dengan berkhayal dan berharap bahwa Anda akan mendapatkannya. Sibukkan diri Anda, lemparkan tali pancing Anda sendiri, dan buatlah impian Anda menjadi kenyataan.”

February 1, 2008

Wanita

Filed under: Renungan — mrtosa @ 9:29 am

Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam.

Malaikat datang dan bertanya,”Mengapa begitu lama, Tuhan?”

Tuhan menjawab:
“Sudahkan engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?”

“ 2 Tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan… , dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini ” Malaikat itu takjub.

“Hanya dengan dua tangan?….impossible!“

Dan itu model standard?!

“Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya“.

“Oh.. Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit SAYA”.

“O yah… Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari”.

Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita-ciptaan TUHAN itu.
“Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?”
“Yah.. SAYA membuatnya lembut. Tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa.“

“Dia bisa berpikir?”, tanya malaikat.

Tuhan menjawab:
“Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi.”

(more…)

January 31, 2008

Surat orang tua untuk anaknya

Filed under: Renungan — mrtosa @ 5:27 am

Untuk anakku tersayang..

Saat kau melihatku beranjak tua,
sering menggumam sendiri,
kumohon bersabarlah dan coba pahami diriku…

Jika aku merasa dahaga saat makan…
jika aku tak bisa berpakaian sendiri…
bersabarlah…
Ingatlah waktu diriku menghabiskan waktuku untuk mengajari hal tersebut padamu

Jika suatu waktu aku bertanya padamu
aku mengulang hal yang sama berkali kali pada satu waktu,
jangan interupsi aku, Tetap sabarlah dan dengarkan aku

Ketika kau kecil…
kau memintaku untuk membacakan dongeng yang sama ribuan kali
pada saat yang sama sampai kau terlelap dalam tidurmu

(more…)

Next Page »

Blog at WordPress.com.